Minggu, 02 Juni 2019

NAMANYA ARIN



Gemuruh terdengar garang di langit. Barisan awan hitam perlahan menyelimuti seluru sudut kota. Tiupan angin mulai membawa udara dingin. Perlahan serbuan tetesan air, menyerang bumi. Tanah bersyukur tumbuhanpun bertasbih.

"Allahumma shoyyiban nafi'an" ucap Munaroh lirih, bersandar menatap langit dari balik jendela kamarnya, menikmati kondisi ketika Allah SWT memerintahkan Malaikat Mikail menurunkan hujan sebagai bentuk rahmat dari-Nya.

Didalam lamunannya Munaroh tersenyum kecil, berimajinasi bagaimana Malaikat Mikail berkomunikasi dengan Allah SWT.

***
"Ya Allah, tanah dengan koordinat 0°37'32.41"S 100°7'23.10E meminta turunnya hujan" lapor Malaikat Mikail kepada Allah SWT

"Laporan diterima, Kun" kata Allah SWT

Kemudian segera Malaikat Mikail menurunkan hujan di koordinat yang telah disebutkan.
***

"Haayooo" kejut kakak Munaroh, menyadarkan Munaroh dari imajinasinya.

"Cieeee yang ngelamun trus senyum-senyum sendiri sambil natap langit. Ngelamunin apa nih adik kakak?" seloroh kakak dengan nada jail.

"Iiiihhh, apaan sih kak" jawab Munaroh cemberut berbalut malu.

"Tadi, Muna cuman ngebayangin gimana proses komunikasi Malaikat Mikail dengan Allah SWT sebelum turunnya hujan" jelas Munaroh.

"Oooooo gitu, iyalah lulusan Ilmu Komunikasi, apa-apa dibayangin komunikasinya. Huuu Kirain ngelamunin jodoh yang ntah dimana, hahahaha" Kakak tertawa.

"Iissshh, ngomongin jodoh. Jodoh Kakak tu belum tau dimana, Muna belum mau mikirin jodoh dulu, fokus menyelesaikan amanah dulu" jawab Munaroh.

"iya iya sip. Hehe.. Oiya, Kakak mau cerita nih. Tiba-tiba teringan sahabat Kakak ketika SMA dulu, namanya Arin" wajah Kakak mulai serius.

"Kak Arin? Kak Arin yang dulu sering main ke sini ya kak?"

"Iya"

"Kenapa rupanya dengan Kak Arin kak? Udah lama Muna nggak dengan kabar beliau" Munaroh mulai penasaran

"Iya, Arin itu anak yang pendiam namun selalu tersenyum dan patuh kepada orang tuanya. Setelah lulus SMA ia tidak melanjutkan kuliah, ia hanya di rumah membantu orang tuanya berjualan di kedai milik keluarganya. Karena sifatnya yang pendiam ia jarang bercerita mengenai apa yang ia alami. Mulai dari rasa sakit, lelah, hingga cinta. Selagi ia sanggup menyimpan dan menahannya maka ia simpan dan tahan sendiri." Tiba-tiba mulut Kakak terhenti, matanya mulai berkaca-kaca.

"Kakak kenapa?" Tanya Munaroh

Kakak menarik napas panjang dan melanjutkan ceritanya, tanpa menjawab pertanyaan Munaroh.

"Arin menyukai seorang laki-laki yang bekerja sebagai buruh di pabrik ayam potong dekat rumahnya. Orang tua Arin tidak mengizinkan hubungan Arin dengan laki-laki itu. Hingga akhirnya, kejadian yang ditakutkan keluargnya terjadi. Arin hamil diluar nikah, Keluarga Arin pun menahan malu akan kejadian itu. Hingga akhirnya mau tidak mau Arin harus dinikahkan dengan laki-laki tersebut." Kakak kembali menarik napas

"Setelah menikah Arin dan suaminya tetap tinggal dirumah orang tua Arin, menahan sindiran yang tidak jarang menggoreskan luka di hati Arin. Arin selalu berpikir positif, mungkin ia tidak diizinkan pindah karena kondisinya yang tengah hamil. Hari terus berganti menjadi minggu, yang kemudian bersusun menjadi bulan demi bulan. Hingga akhirnya bayi yang di kandung Arin lahir melalui operasi caesar. Arin tetap tidak diizinkan meninggalkan rumah itu. Luka di hati Arin semakin dalam akan sindiran yang terus dilontarkan oleh orang tuanya. Sebagai anak yang berbakti Arin terus membantu orang tuanya, walaupun kondisinya belum pulih maksimal" napas kakak mulai tidak stabil bercerita

"Tidak jarang Arin menahan nyeri diperutnya,  bekas operasinya belum pulih. Dipaksa bekerja duduk berdiri dalam waktu yang singkat, berjalan cepat mengambil keperluan kedai, bolak balik rumah dan dapur. Air mata seriap hari Arin teguk kedalam, menjadi bahan bakar senyum untuk pelanggan kedai yang datang berbelanja. Sakit yang semakin hari semakin nyeri Arin sembunyikan. Hingga suatu hari Arin mengigil, tubuhnya mulai berubah warna, napasnya sesak, keringat dingin bercucuran, Arin mencapai batasnya. Seluruh keluarga Arin panik, Arin segera dilarikan ke Rumah Sakit. Namun malang tidak dapat di tolak, Arin kembali kepangkuan Rabb-nya. Berdasarkan analisa dokter bekas operasi Arin mengalami infeksi yang bereaksi keseluruh tubuh (sepsis/septicaemia)." Air mata yang sedari tadi Kakak tahan mulai membasahi pipi dan hijabnya.

Melihat kakak menangis, Munaroh segera memeluk kakaknya.

"Pantesan Kak Arin nggak ada kabar lagi. Semoga arwah Kak Arin diterima di sisi-Nya". Tanpa disadari air mata Munaroh pun ikut jatuh.

Hari semakin gelap dan hujan semakin lebat, Munaroh dan kakanya hanyut dalam kenangan bersama sosok wanita bernama Arin.