Selasa, 20 Agustus 2019

CERITA INDONESIA


Oleh: Andri Falchan
Pariaman, 17 Agustus 2019


Kututup mata, kuhirup perlahan udara
Terbayang jelas
Negeri elok permai, Indonesia

Jalan berliku, mendaki menurun
Terbentang keseluruh penjuru nusantara
Santun ramah penduduk nya
Lebar merekah senyum mereka menyapa

Negeri elok indonesia
Suara alammu indah didengar
Negeri elok indonesia
Merah membara gambaran semangatmu
Putih suci menerima perbedaan bukti kita satu

Kini indonesia gundah gulana
Generasinya terhipnotis setan persegi yang merasuk ke dalam hati
Peluru-peluru tak kasat mata menghujam tajam ke dalam pikiran sitiap anak
Seolah dipaksa patuh untuk menunduk
Berkelana melalui dua jempol yang tak henti naik turun

Sebagian orang tua sibuk dengan pekerjaannya
Mencari rezeki dunia
Menyepelakan tanggung jawabnya sebagai contoh bagi anak
Padahal itu adalah bentuk bekal di akhirat kelak

Sebagian guru hanya mengajar tanpa mendidik
Memberikan materi tanpa peduli anak memahami

Banyak.. banyak sekali
Bakteri penggerogot setiap sendi negeri elok Indonesia

Bukan bermaksud mencaci, tapi Indonesia akan mati jika terus dibiarkan seperti ini
Sadarlah..
Sadarlah..
Sadarlah..

Setiap kita memiliki peran masing-masing dalam memperkuat setiap sendi kehidupan Indonesia
Mulailah dari langkah kecil yang nantinya akan menjadi terobosan besar
Lakukanlah dengan hati, berhati-hati, dan sepenuh hati.

Selamat HUT RI Indonesia ke-74

Minggu, 02 Juni 2019

NAMANYA ARIN



Gemuruh terdengar garang di langit. Barisan awan hitam perlahan menyelimuti seluru sudut kota. Tiupan angin mulai membawa udara dingin. Perlahan serbuan tetesan air, menyerang bumi. Tanah bersyukur tumbuhanpun bertasbih.

"Allahumma shoyyiban nafi'an" ucap Munaroh lirih, bersandar menatap langit dari balik jendela kamarnya, menikmati kondisi ketika Allah SWT memerintahkan Malaikat Mikail menurunkan hujan sebagai bentuk rahmat dari-Nya.

Didalam lamunannya Munaroh tersenyum kecil, berimajinasi bagaimana Malaikat Mikail berkomunikasi dengan Allah SWT.

***
"Ya Allah, tanah dengan koordinat 0°37'32.41"S 100°7'23.10E meminta turunnya hujan" lapor Malaikat Mikail kepada Allah SWT

"Laporan diterima, Kun" kata Allah SWT

Kemudian segera Malaikat Mikail menurunkan hujan di koordinat yang telah disebutkan.
***

"Haayooo" kejut kakak Munaroh, menyadarkan Munaroh dari imajinasinya.

"Cieeee yang ngelamun trus senyum-senyum sendiri sambil natap langit. Ngelamunin apa nih adik kakak?" seloroh kakak dengan nada jail.

"Iiiihhh, apaan sih kak" jawab Munaroh cemberut berbalut malu.

"Tadi, Muna cuman ngebayangin gimana proses komunikasi Malaikat Mikail dengan Allah SWT sebelum turunnya hujan" jelas Munaroh.

"Oooooo gitu, iyalah lulusan Ilmu Komunikasi, apa-apa dibayangin komunikasinya. Huuu Kirain ngelamunin jodoh yang ntah dimana, hahahaha" Kakak tertawa.

"Iissshh, ngomongin jodoh. Jodoh Kakak tu belum tau dimana, Muna belum mau mikirin jodoh dulu, fokus menyelesaikan amanah dulu" jawab Munaroh.

"iya iya sip. Hehe.. Oiya, Kakak mau cerita nih. Tiba-tiba teringan sahabat Kakak ketika SMA dulu, namanya Arin" wajah Kakak mulai serius.

"Kak Arin? Kak Arin yang dulu sering main ke sini ya kak?"

"Iya"

"Kenapa rupanya dengan Kak Arin kak? Udah lama Muna nggak dengan kabar beliau" Munaroh mulai penasaran

"Iya, Arin itu anak yang pendiam namun selalu tersenyum dan patuh kepada orang tuanya. Setelah lulus SMA ia tidak melanjutkan kuliah, ia hanya di rumah membantu orang tuanya berjualan di kedai milik keluarganya. Karena sifatnya yang pendiam ia jarang bercerita mengenai apa yang ia alami. Mulai dari rasa sakit, lelah, hingga cinta. Selagi ia sanggup menyimpan dan menahannya maka ia simpan dan tahan sendiri." Tiba-tiba mulut Kakak terhenti, matanya mulai berkaca-kaca.

"Kakak kenapa?" Tanya Munaroh

Kakak menarik napas panjang dan melanjutkan ceritanya, tanpa menjawab pertanyaan Munaroh.

"Arin menyukai seorang laki-laki yang bekerja sebagai buruh di pabrik ayam potong dekat rumahnya. Orang tua Arin tidak mengizinkan hubungan Arin dengan laki-laki itu. Hingga akhirnya, kejadian yang ditakutkan keluargnya terjadi. Arin hamil diluar nikah, Keluarga Arin pun menahan malu akan kejadian itu. Hingga akhirnya mau tidak mau Arin harus dinikahkan dengan laki-laki tersebut." Kakak kembali menarik napas

"Setelah menikah Arin dan suaminya tetap tinggal dirumah orang tua Arin, menahan sindiran yang tidak jarang menggoreskan luka di hati Arin. Arin selalu berpikir positif, mungkin ia tidak diizinkan pindah karena kondisinya yang tengah hamil. Hari terus berganti menjadi minggu, yang kemudian bersusun menjadi bulan demi bulan. Hingga akhirnya bayi yang di kandung Arin lahir melalui operasi caesar. Arin tetap tidak diizinkan meninggalkan rumah itu. Luka di hati Arin semakin dalam akan sindiran yang terus dilontarkan oleh orang tuanya. Sebagai anak yang berbakti Arin terus membantu orang tuanya, walaupun kondisinya belum pulih maksimal" napas kakak mulai tidak stabil bercerita

"Tidak jarang Arin menahan nyeri diperutnya,  bekas operasinya belum pulih. Dipaksa bekerja duduk berdiri dalam waktu yang singkat, berjalan cepat mengambil keperluan kedai, bolak balik rumah dan dapur. Air mata seriap hari Arin teguk kedalam, menjadi bahan bakar senyum untuk pelanggan kedai yang datang berbelanja. Sakit yang semakin hari semakin nyeri Arin sembunyikan. Hingga suatu hari Arin mengigil, tubuhnya mulai berubah warna, napasnya sesak, keringat dingin bercucuran, Arin mencapai batasnya. Seluruh keluarga Arin panik, Arin segera dilarikan ke Rumah Sakit. Namun malang tidak dapat di tolak, Arin kembali kepangkuan Rabb-nya. Berdasarkan analisa dokter bekas operasi Arin mengalami infeksi yang bereaksi keseluruh tubuh (sepsis/septicaemia)." Air mata yang sedari tadi Kakak tahan mulai membasahi pipi dan hijabnya.

Melihat kakak menangis, Munaroh segera memeluk kakaknya.

"Pantesan Kak Arin nggak ada kabar lagi. Semoga arwah Kak Arin diterima di sisi-Nya". Tanpa disadari air mata Munaroh pun ikut jatuh.

Hari semakin gelap dan hujan semakin lebat, Munaroh dan kakanya hanyut dalam kenangan bersama sosok wanita bernama Arin.

Minggu, 24 Juni 2018

Pesan Ayah Untuk Anak Laki-laki (Bagian 5)


Nak, kali ini ingin ayah paparkan siapa yang haram dinikahkan sepanjang hukum syariat islam dan tercela menurut adat minang kabau. Ada 13 perempuang yang tidak boleh dinikahi menurut ajaran agama islam, diantaranya:

1. Ibu kandung, ibu dari ibu, dan ibu dari ayah (nenek kandung)
2. Anak kandung dan keturunannya ke bawah
3. Saudara kandung biarpun se-ibu beda ayah atau se-ayah beda ibu
4. Saudara perempuan ayah
5. Saudara perempuan ibu
6. Anak perempuan dari saudara laki-laki
7. Anak perempuan dari saudara perempuan (keponakan)
8. Ibu yang menyusui juga ibu dari ibu beliau
9. Saudara perempuan sepersusuan serta anak cucunya ke bawah
10. Ibu dari istri (mertua)
11. Istri dari anak "menantu", walaupun sudah bercerai
12. Anak tiri walaupun ibunya sudah meninggal
13. Saudara perempuan dari istri kecuali tidak dimenantukan.

Itulah orang-orang yang diharamkan untuk dinikahi. Di zaman Rasulullah dan sahabat dilarang mengawini para janda Rasulullah. Selain itu, dilarang mengingini perempuan dalam masa iddah.
Adapun bagi orang Minang Kabau yang beradat sersandi syarak, syarak bersandi kitabullah selain 13 perempuan di atas ada pula 8 perempuan yang berpantang sepanjang adat untuk dinikahi, yaitu:

1. Perempuan yang bersaudarakan ibu
2. Perempuan yang bersaudarakan ayah
3. Janda saudara, kecuali jika sudah meninggal
4. Janda paman, biarpun bercerai hidup atau bercerai mati
5. Janda penghulu dalam suku
6. Sahabat karib ibu
7. Tetangga sebelah rumah
8. Perempuan satu suku

Namun, setiap daerah memiliki larangan yang berbeda. Ada yang lebih dari delapan. Ada yang boleh sepersukuan asalkan penghulunya sudah berbeda. Ada pula perjanjian dua suku yang tidak boleh ambil mengambil atau sebagainya.

Nak, jika kamu telah menikah untuk membuka palang hati dan masuk ke dalam jiwa ada empat larangan yang harus dihindari dan empat suruhan yang harus dipatuhi. Adapun empat larang itu, diantaranya:

1. Jangan pernah menyebut perempuan lain pembanding-banding yang dahulu di hadapan istrimu. Paling sakit bagi perempuan jika ia dibanding-bandingkan nak.

2. Jangan pemuji berterus terang atau mengatakan tidak suka secara blak-blakan. Kalau istri disanjung-sanjung dipuji berterus terang alamat akan tinggi diri dan sombong juga takaburpun menghampirinya nak. Sebaliknya, jika ada yang kurang setuju yang lahir maupun bathin jangan pula berterus terang di depannya karena akan mendatangkan rasa minder terhadap istrimu. Tapi kalau memuji sekilas saja, tidak suka gunakan kata-kata sindiran sambil tertawa.

3. Jangan dilecehkan istri di depan orang ramai apalagi di depan karib kerabat.

4. Jangan ringan tangan (ini yang paling ayah benci). Susah orang tuanya membesarkan diserahkan kepadamu secara baik jangan pula kamu pukuli. Ingat nak, istrimu itu masih banyak yang punya. Punya ibu dan bapaknya, punya kaumnya, punya negara, dan punya Allah SWT. jangan enak-enak saja memukuli. Jika dosanya tidak terampuni, ulahnya melampau batas tidak mungkin dibentuk kembali, serahkan kembali ke ayahnya nak. Tapi jangan disakiti, dipukul-pukul, karena ia bukanlah hewan yang tahan pukul melainkan manusia yang tahan kias. Ingat itu!

Kemudian, adapun suruhan yang empat adalah:

1. Turun tangan jika istri terdesak. Suami disatu pihak dengan istri dibidang lain sudah memiliki bidang kerja dan tugas masing-masing. Suami mencari nafkah, istri mengurus rumah. Jangan seperti gotong royong semua mau dipegang, sumbang dan janggal dipandangi. Akan tetapi, ketika istri kurang sehat, masih lemah karena bersalin, atau kerja terlampau sibuk suami harus turun tangan membantu apa yang bisa dibantu. Mungkin itu menyapu, mencuci piring, atau bahkan menyetrika. Prihatinlah ke istrimu nak, susah jadi perempuan itu. 

2. Sudah menjadi kodrat alam nak, ketika istri mulai mengandung banyak tingkah berubah sifat seketika. Terkadang katanya kita busuk jijik setengah mati, sayang berlebihan tidak boleh suami keluar rumah, kehendaknya tidak masuk akal. Minta es krim di tengah malam, ingin minum susu kuda, macam-macamlah perangainya. Jika bertemu yang seperti itu nak, mesti sabar menghadapinya. Karena itu adalah ujian bagi calon ayah, ibarat pelonco di Mahasiswa. Makanya ayah ingatkan jangan bertengkar, berdebat, bahkan bercerai karena urusan kecil.

3. Ajari ia bergaul dengan ipar bisan dan suruh ia bermasyarakat. Jarang sekali orang yang mampu merukunkan istri dan ibunya. Kenapa demikian? Karena mereka berdua merasa memilikimu dan berebut kasih darimu. Hak ibu rasa teracuhkan karena datang perempuan lain padahal ia yang membesarkan. Istripun merasa memiliki, sepanjang hukum dan syarak, peraturan dan undang-undang suami adalah hak dari istrinya. Keduanya betul nak, sekarang satu daerah dua pemilik. Makanya ayah ingatkan, berpandai-pandailah, adil-adil berdiri di tengah, jangan oleng dengan pendirian, serta pakailah sifat bijaksana. Adakan pendekatan psikologis antara ibu dan istri hanya saja jangan terlalu erat apalagi hidup serumah, pepatah minang mengatakan "arek-arek lungga mangkonyo elok". Selain itu, cara beripar dan berbisan. Biasakan kunjung mengunjungi supaya terwujud keserasian dalam keluarga besar ipar bisan. Jangan lupa ajari istri bermasyarakat, ikut serta dalam Dharma Wanita, PKK, asalkan bersifat positif lepaslah tetapi tetap monitor dari jauh. Awasi jangan sampai kumat penyakit ibu-ibu. Pertama, pamer memamerkan. Kedua, menggosip menceritakan orang.

4. Selalu bermusyawarah. Laki-laki pemimpin dikeluarga selalu mengambil keputusan, namun jangan mengambil keputusan sendiri, ajak istri bermusyawarah. Mulai dari mengambil keputusan besar seperti membangun rumah atau membuka usaha hingga keputusan kecil seperti memilih warna kain sarung. Semua mesti dengan musyawarah. Bahkan jika anak sudah besar, wajib pula diikutsertakan dalam musyawarah.

InsyaAllah nak, jika empat larangan dan empat suruhan di atas dijalankan dengan baik sejahtera keluargamu nak. Suami teladan kata orang.

Terakhir nak, adapun laki-laki di tanah Minang memikul banyak tanggung jawab. Di samping istri dan anak-anak, ada keponakan, kaum kerabat, juga kampung dan halaman. Pepatang mengatakan

"Kaluak paku asam balimbiang, tampuruang dilenggang-lenggangkan dibaok rang saruaso. Anak dipangku kamanakan dibimbiang, urang kampuang dipatenggangkan tenggang nagari jan binaso."

Artinya, sementara mengurus rumah tangga kita dituntut secara moral membela karib kerabat dan keponakan, bahkan secara materil jika keadaan memungkinkan. Bermasyarakatpun dijalankan nak, jangan kita hendak hidup sendiri berpikir jika urusan anak istri sudah selesai urusan orang masa bodoh. Orang tua menjanda tidak peduli, keponakan terlantar tidak acuh, pesta orang tidak datang, ada tetangga kemalangan tak dijenguk, gotong royong tidak pernah sekalipun. Jangan nak, ayah tidak suka yang demikian. Jika nanti kamu susah tidak ada pula yang akan peduli.

Mengenai diri ayah jangan terlalu dihiraukan. Selagi masih bergerak tulang ini kalian tidak akan dibebani. Namun, kalau umur singkat ayah berpulang lebih dahulu, jaga ibumu nak, bela ibumu nak urusi dengan seluruh kemampuanmu. Haram lillah ayah tak rela kasih tak izin jika ibumu engkau titip di panti jompo.

Jika tersebut tentang kematian. Terbayang nasib di akhirat cemas ayah memikirkannya. Entah bagaimana di hari esok. Sepanjang kaji yang didengar, hadist yang shahih dari Nabi hanya tiga yang akan menolong nak, yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan do'a anak yang sholeh.
Karena susah sepanjang hari, tidak sempat bersedekah, untuk kalian saja tidak cukup konon pula mengingat orang lain. Disebut ilmu yang diajarkan itulah yang susah sekali, sekolah ayah tidak tamat, mengaji tidak sampai khatam, pengalaman masih kurang. Hanya yang terakhir yang ayah harapkan nak, do'a dari kalian. Kirimi do'a agar lapang dan dimudahkan urusan kubur ayah. Tolong ya nak, tolong. Hanya satu itu permintaan Ayah yang lain kalian tidak berhutang ridha dan maaf mengiringi.
Itulah seluruh pesan ayah nak, kembali kepadamu jika ingin mengamalkan.


SELESAI